Dunia Kampus, didukung oleh Deepublish Store, menyelenggarakan webinar bertajuk “Self-Awareness untuk Mahasiswa: Kenali Diri, Kelola Emosi” pada Jumat, 9 Oktober 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube. Webinar ini terbuka gratis bagi mahasiswa di seluruh Indonesia yang ingin memahami diri dan mengelola emosi dengan lebih baik.
Webinar ini hadir menjawab keresahan mahasiswa yang masih bingung memahami diri sendiri, mengelola emosi, atau menghadapi berbagai tekanan perkuliahan. Menjadi mahasiswa tidak hanya soal mengejar nilai dan menyelesaikan tugas, tetapi juga mengenali diri serta belajar mengelola respons terhadap berbagai situasi. Tekanan dapat datang dari tugas dan deadline, presentasi, organisasi, magang, hubungan pertemanan, hingga media sosial.
Merujuk pada World Health Organization (WHO) per 30 Maret 2026, stres merupakan respons alami terhadap tantangan, namun dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental apabila terlalu berat atau menetap.
Kementerian Kesehatan RI pada 9 Maret 2026 melaporkan, dari sekitar 7 juta anak yang menjalani Skrining Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026, sekitar 338 ribu (4,4%) menunjukkan gejala kecemasan dan sekitar 363 ribu (4,8%) menunjukkan gejala depresi. Data tersebut bukan prevalensi khusus mahasiswa dan hasil skrining bukan diagnosis, tetapi menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental kelompok usia muda. Dunia Kampus melihat kondisi ini sebagai alasan untuk menghadirkan ruang belajar yang relevan dan mudah diakses mahasiswa.
Agenda webinar menghadirkan Irsyal Fauzan Hadiyan, S.Ap sebagai narasumber. Ia merupakan Smiling West Java Ambassador 2022 sekaligus Winner Duta Kesehatan Indonesia 2022. Irsyal memulai pemaparan dengan menjelaskan bahwa self-awareness adalah kemampuan memahami diri secara mendalam, mulai dari karakter, perasaan, motif, hingga pengaruh perilaku terhadap orang lain.
Kemampuan mengenali diri dapat dikembangkan melalui refleksi terhadap pikiran dan tindakan, memahami alasan di balik pola pikir dan emosi, serta menyadari kondisi diri tanpa menghakimi. Pemahaman tersebut membantu seseorang melihat dirinya secara lebih objektif. Irsyal merangkumnya dalam lima pertanyaan, yaitu siapa saya, apa yang saya rasakan, mengapa saya merasakannya, apa yang saya butuhkan, dan apa langkah saya selanjutnya.
Ia juga mengajak peserta memandang emosi sebagai informasi, bukan musuh. Marah dapat menandakan ada hal yang dianggap dilanggar, sedih menandakan kehilangan, takut menandakan ancaman atau ketidakpastian, dan kecewa menandakan kenyataan tidak sesuai harapan. Dengan contoh nilai 60 dari dosen, peserta diajak membedakan fakta dari interpretasi. Nilai 60 adalah data, sedangkan kalimat “saya bodoh” adalah tafsiran. Peserta kemudian diperkenalkan pada alur Situation, Emotion, Thought, Need, dan Response untuk mengurai reaksi diri.
Irsyal turut membekali peserta dengan teknik PAUSE, yakni Pause, Acknowledge, Understand, Select, dan Execute, yang memberi ruang antara emosi dan tindakan agar tidak selalu bereaksi secara otomatis. Ia juga memaparkan kerangka Fact, Emotion, Thought, Trigger, Need, What I Control, dan 24-hour action yang dicontohkan melalui situasi deadline esok hari. “Kenali diri sendiri dengan memahami fakta, emosi, pikiran, pemicu emosi (trigger), keinginan, serta hal-hal yang bisa kita kendalikan. Lalu kita bisa menentukan langkah dan tindakan yang tepat untuk ke depannya,” ujar Irsyal.
Melalui webinar ini, Dunia Kampus berharap mahasiswa semakin mampu mengenali diri, memahami emosi, dan menentukan respons yang tepat dalam menghadapi tekanan perkuliahan. Dunia Kampus berkomitmen untuk terus menghadirkan program edukatif yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui rangkaian webinar pengembangan diri serupa yang direncanakan hadir pada kesempatan mendatang.